Para Doppelganger dalam Sejarah
Pengertian doppelganger adalah orang biasa yang memiliki kemiripan, baik wajah maupun bentuk tubuh, dengan orang lain yang lebih familiar/dikenal masyarakat alias tokoh terkenal. Mereka seringkali memerankan diri sebagai tokoh terkenal (public figure). Kata doppelganger sendiri berasal dari bahasa Jerman, artinya kembaran yang berjalan (walking double).
Ada banyak alasan di balik eksistensi para doppelganger. Mereka biasanya digunakan oleh tokoh terkenal (public figure) untuk alasan-alasan tertentu, misalnya untuk menghindari risiko pembunuhan (jika tokoh tersebut ialah tokoh politik), untuk mengalihkan perhatian (karena sang tokoh risih dengan popularitasnya), dan untuk keperluan-keperluan lainnya.
Saddam Hussein adalah salah satu tokoh yang seringkali menggunakan doppelganger. Ia diketahui menggunakan doppelganger seumur hidupnya. Salah seorang koresponden BBC, John Simpson, dapat membedakan Saddam Hussein "ori dan yang "kw" dengan bantuan dari ilmuwan forensik Jerman, dr. Dieter Buhmann. Dr. Buhmann menggunakan film dan foto Saddam Hussein secara detail dan penuh perhitungan untuk dapat membedakan keduanya. Menurutnya, sejumlah foto propaganda yang beredar bukanlah diri Saddam Hussein sama sekali.
Politikus sayap kanan Austria, Jorg Haider, pernah mendapatkan kesempatan untuk mewawancarai Saddam Hussein pada 2003. Saat itu adalah malam Perang Irak. Pihak Saddam tentu tidak ingin mengambil risiko sehingga yang hadir adalah Saddam "kw". Lawan politik Haider tertawa terbahak-bahak begitu mengetahui kenyataan ini.
John Simpson yang kabarnya sudah pernah bertemu Saddam Hussein pun semakin mahir dalam membedakan yang "ori" dan yang "kw". Ia tahu detail kecil yang membedakan keduanya. "Penampilannya secara umum entah bagaimana sangat berbeda. Tatapan matanya yang seperti kerikil tidak terlalu tajam. Garis wajahnya sedikit lebih lembut, lebih ramah." Adalah seragam militer, kumis yang khas, dan sepasang kacamata hitam yang kemudian berfungsi untuk menutupi perbedaan ini.
Anak Saddam Hussein, Uday, juga termasuk orang yang sering menggunakan doppelganger. Uday Hussein dikenal sebagai orang yang gemar membunuh. Karena itu, risiko kematiannya sangat tinggi jika ia harus sering-sering tampil di depan umum. Untuk menyiasati hal tersebut, Uday menggunakan teman sekolahnya, Latif Yahia, untuk menjadi doppelganger atas dirinya. Latif Yahia menolak. Karena penolakan itu, ia dipenjara dalam sel kecil yang menyiksa. Keluarga Latif Yahia juga mendapatkan ancaman sampai akhirnya Yahia menerima tawaran itu.
Untuk memerankan Uday dengan sangat baik, Latif Yahia harus menjalani operasi plastik dan operasi gigi. Setelah itu, yang harus Yahia lakukan adalah berperan sebagai Uday Hussein dalam berbagai rapat dan upacara. Yahia juga harus mengurus tentara Iraq selama perang Iran-Irak. Ia juga hadir dalam barisan tentara Iraq demi memompa semangat tempur mereka selama periode invasi Iraq ke Kuwait.
Memerankan Uday adalah tugas yang sangat berbahaya. Uday dikenal sebagai pelanggar hukum yang mencolok, seperti pemerasan, penyiksaan, pemerkosaan, dan pembunuhan. Hal-hal tersebut membuat pekerjaan Latif Yahia menjadi luar biasa berat karena berkali-kali harus menghindari upaya pembunuhan oleh orang-orang yang mengira dirinya adalah Uday.
Beruntungnya, peran itu tidak dilakoni lebih dari 4 tahun. Yahia melarikan diri dari Irak pada 1992. Beberapa tahun kemudian, ia menerbitkan memoar berjudul I was Saddam's Son.
Bahayanya Menjadi Doppelganger
Menjadi "fotokopi" dari figur publik sekilas memang tampaknya keren, tetapi sebenarnya lebih menyerupai kutukan daripada keberuntungan, sebagaimana yang dialami Latif Yahia kala memerankan Uday Hussein di atas. Anda dituntut untuk memerankan tokoh dengan sangat bagus. Ketika tokoh aslinya terkesan, apalagi dia adalah seorang diktator sekelas Stalin, "selesai"-lah karier yang selama ini Anda bangun dengan susah payah.
Pemimpin Uni Soviet, Joseph Stalin, begitu senang dengan penampilan seorang aktor bernama Mikheil Gelovani, sesama orang Georgia yang memerankan dirinya pada sebuah film propaganda dekade 1930-1940-an. Saking senangnya Stalin, ia meminta hak eksklusif: tidak ada aktor yang boleh memerankan Stalin! Hanya Gelovani yang diizinkan untuk memerankan peran itu. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa karier Gelovani telah dibajak.
Mikheil Gelovani sebagai Stalin
Untungnya, Stalin tidak memaksa Gelovani untuk memerankan dirinya seumur hidup. Pasalnya, tugas itu sudah diambil oleh orang lain. Namanya adalah Felix Dadaev.
Felix Dadaev (kiri), doppelganger dari Joseph Stalin (kanan)
Bagaimana, kedua orang itu memang berbeda, bukan?
Mana yang menurut Anda adalah Stalin yang asli? Mana Dadaev? Tuliskan pendapat Anda di bagian comment.
Felix Dadaev aslinya adalah penampil dalam sirkus. Serangan dari tentara Hitler membuatnya cukup stres dan akhirnya membuat dia dikirim ke Kremlin untuk bekerja sebagai doppelganger Stalin. Peran ini ia jalani selama lebih dari setengah abad.
Felix Dadaev bukanlah satu-satunya doppelganger Stalin. Ada lagi doppelganger lainnya yang bernama sandi "Rashid". Namun, "Rashid" telah meninggal pada 1991 dalam usia 93 tahun. Informasi selengkapnya bisa Anda lihat di sini.
Yang jelas, baik Dadaev maupun "Rashid" punya peran yang sama; menggantikan Stalin pada berbagai upacara peresmian, parade, serta kegiatan-kegiatan yang bersifat publik di mana risiko pembunuhan meningkat.
Gustav Weler punya kemiripan dengan Hitler. Kemiripan (dan kebodohannya) membuahkan sebuah ketidakberuntungan yang harus ia alami. Suatu hari, Weler datang ke peringatan kepemimpinan Nazi dekade 1930-an. Ia ditangkap karena menggunakan kemiripannya untuk mengolok-olok Fuhrer. Orang mungkin akan menganggapnya berguna sebagai langkah antisipasi apabila terjadi upaya pembunuhan, sebagaimana nasib para doppelganger dari banyak diktator. Namun, Hitler tidak beranggapan demikian.
Adalah Martin Bormann (sekretaris Hitler) yang memiliki ide untuk "menggunakan" Weler sebagai doppelganger. Bormann menembak Weler yang berperan sebagai Hitler di taman Reich Chancellery (Kekanseliran Jerman) pada bulan April 1945 karena Tentara Merah sudah mendekati Berlin. Mayat "Hitler" ternyata mampu mengelabui Tentara Merah yang menemukan dia. Dengan senang hati, mereka memfotonya.
Gustav Weler, doppelganger Adolf Hitler
Hanya saja, Hitler yang sebenarnya akhirnya dikenali tidak lama kemudian.
Adakah orang yang bukan doppelganger namun menerima nasib sial selayaknya doppelganger? Ada. Dia adalah Leslie Howard.
Leslie Howard Steiner, aktor Inggris
Leslie Howard Steiner adalah aktor kenamaan asal Inggris kelahiran 3 April 1893. Selain bermain peran di dunia teater dan televisi, ia juga menjalani profesi sebagai produser dan sutradara. Leslie Howard menulis banyak cerita dan artikel untuk media-media ternama seperti The New York Times, The New Yorker, dan Vanity Fair. Popularitasnya sebagai idola tidak diragukan lagi pada 1930-an. Ia adalah salah satu daya tarik terbesar box office pada masanya.
Sayangnya, Leslie Howard harus mengalami nasib apes pada 1943. Pesawat yang ia tumpangi dari Portugal menuju Inggris ditembak oleh AU Jerman. Tidak, ia tidak mirip siapa-siapa. Akuntannya yang mirip, bernama Alfred Chenhalls. Mirip Winston Churchill, tepatnya.
Alfred Chenhalls, doppelganger Winston Churchill
Ketika Howard dan Chenhalls sedang berada di Portugal, Churchill dan rombongannya sedang berada di Afrika Utara untuk menghadiri rapat dengan komandan Sekutu kala itu, Dwight Eisenhower. Ada kemungkinan bahwa Perdana Menteri Inggris itu pulang lewat Lisbon, Portugal.
Apakah intel Jerman mengetahui rute kepulangan Churchill dan salah mengidentifikasi Chenhalls sebagai Churchill? Atau mereka menganggap bahwa Churchill yang pergi dengan pesawat sipil dengan kawalan satu orang "bodyguard" (yaitu Leslie Howard) adalah kesempatan bagus yang belum tentu ada lagi?
Yang jelas, Winston Churchill kemudian menganggap bahwa rencana perjalanannya bisa jadi berkontribusi dalam kematian Howard.
Doppelganger sebagai Taktik Perang
Salah satu hal penting dan yang paling bisa dimanfaatkan dari doppelganger adalah kesalahpahaman identitas. Ini digunaan terutama oleh pemimpin militer, salah satunya adalah perwira AD Inggris, Jenderal Bernard Montgomery.
Jenderal Bernard Law Montgomery
Beberapa pekan sebelum pendaratan terbesar sepanjang sejarah oleh pasukan Sekutu, D-Day yang dilakukan pada Juni 1944, seorang perwira Inggris melihat foto menakjubkan dari sebuah koran Leicester. Foto itu menunjukkan Meyrick Edward Clifton James, aktor kelahiran Australia yang memerankan tokoh Montgomery dalam pertunjukan yang diselenggarakan oleh Royal Army Pay Corps Drama and Variety Group. Pertunjukan itu memang dibuat untuk mengangkat semangat tentara. Clifton James jelas memiliki kemiripan yang luar biasa dengan Montgomery.
Meyrick Edward Clifton James sebagai Jenderal Montgomery
David Niven, bintang film yang bertugas dalam Army Film Unit, lantas diberi tugas untuk merekrut Clifton James. Operasi top secret bersandi Copperhead pun dijalankan. Dalam operasi ini, Clifton James akan memerankan Monty, panglima AD Sekutu, yang diketahui sedang melakukan perjalanan ke Mediterania. Harapan mereka, Jerman mengira bahwa Sekutu akan memulai serangan mereka dari selatan sehingga tidak ada invasi yang datang dalam waktu dekat.
Clifton James dibawa ke London dulu untuk berlatih meniru Monty, baik dalam hal suara, ekspresi wajah, maupun kebiasaannya. Clifton James berhasil melakukannya dengan baik, meskipun dibutuhkan perjuangan tersendiri untuk meniru kebiasaan Monty yang anti terhadap rokok dan minuman keras. Setiap detail diperhatikan, termasuk urusan jari tangan. Clifton James kehilangan satu jari di tangan kanannya akibat Perang Dunia I sehingga Sekutu perlu menambahkan jari palsu padanya.
Pada 25 Mei 1944, pesawat pribadi Churchill berangkat dari Gibraltar dengan membawa Monty "kw" di dalamnya. Gubernur Jenderal Gibraltar saat itu sedang mengadakan "pesta resepsi" di kediamannya, tentu bagian dari operasi Copperhead. Seorang intel asal Spanyol juga diundang melalui dalih terpisah; dia dengan patuh menyampaikan apa yang dilihatnya kepada Berlin. Bletchley Park, pusat pembaca sandi Inggris selama perang, mendapatkan pesannya.
Clifton James terbang ke Aljazair pertemuan terbuka dengan Jenderal Henry Maitland Wilson, komandan Sekutu di Mediterania dan Timur Tengah. Ia lalu terbang secara rahasia ke Kairo, Mesir, sementara pendaratannya berada di Normandia. Ia kembali ke Inggris lima pekan setelah D-Day.
Masih dipertanyakan apakah hoax ini memiliki dampak strategis, namun operasi ini jelas membutuhkan keberanian dan profesionalisme karena konsekuensinya Clifton James dapat dengan mudah jadi target lawan. Namun demikian, ia tidak pernah menerima penghargaan apapun atas jasanya, sesuatu yang belakangan ia sesalkan.
Clifton James lalu menuliskan hal ini pada sebuah memoar berjudul I Was Monty's Double yang terbit pada 1954. Buku itu lalu diangkat menjadi film yang dibintangi oleh Clifton James baik sebagai dirinya maupun sebagai Montgomery.
Usut punya usut, Jenderal Montgomery sebenarnya memiliki dua doppelganger. Selain Clifton James, ia juga mempunyai Keith Demer 'Tex' Banwell yang bepergian di Afrika Utara.
Tex Banwell, tentara Inggris yang menjadi doppelganger kedua Montgomery
Tubuh Banwell lebih tinggi daripada Clifton James. Ini adalah kelemahan yang membuat dia tidak dizinkan untuk keluar dari kendaraannya di depan umum.
Sumber foto:
Uday Hussein dan Latif Yahia: national.ro
Mikheil Gelovani: https://www.newstatesman.com/culture/2015/04/how-do-you-make-film-about-dictator
Leslie Howard: wikipedia.org
Alfred Chenhalls: https://nscompsandpoets.files.wordpress.com/2013/04/chenhalls.jpg
Meyrick Edward Clifton James: wikipedia.org
Keith Demer 'Tex' Banwell: https://alchetron.com/Tex-Banwell
Cover: http://historycollection.co/strange-life-joseph-stalins-body-double/









Komentar
Posting Komentar